/* === TOP ADS / BANNER AREA VIO MAGZ === */ .top-ads-wrapper { width: 100%; max-width: 1100px; margin: 15px auto; padding: 10px; text-align: center; background: #ffffff; border-radius: 6px; box-shadow: 0 2px 6px rgba(0,0,0,0.08); } /* Placeholder teks (jika belum ada iklan) */ .top-ads-wrapper .ads-placeholder { font-size: 13px; color: #999; letter-spacing: 1px; text-transform: uppercase; } /* Responsive banner */ .top-ads-wrapper img, .top-ads-wrapper iframe, .top-ads-wrapper ins { max-width: 100%; height: auto; } /* Mobile optimization */ @media screen and (max-width: 768px) { .top-ads-wrapper { margin: 10px auto; padding: 8px; } }
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Proyek Kantin Wisata di Desa Muaro Jambi Diduga Bermasalah, Bangunan Roboh Sebelum Digunakan

Muaro Jambi, NHT - Aroma dugaan penyimpangan mencuat dari proyek pembangunan fasilitas publik di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Proyek pembangunan kantin wisata yang menelan anggaran ratusan juta rupiah itu kini menjadi sorotan tajam warga setelah bangunan dilaporkan roboh, Kamis (22/01/2026).

‎Berdasarkan data yang dihimpun, pembangunan kantin wisata dengan ukuran sekitar 5×6 meter tersebut menghabiskan anggaran mencapai Rp.126.000.000,- (seratus dua puluh enam juta rupiah). Nilai tersebut dinilai tidak sebanding dengan kondisi fisik bangunan yang ada.

‎Sejumlah pihak menilai, untuk bangunan berukuran kecil diwilayah pedesaan, anggaran sebesar itu semestinya mampu menghasilkan konstruksi yang kokoh dan berkualitas. Namun fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

‎Ironisnya, kantin wisata tersebut roboh sebelum sempat difungsikan dan dimanfaatkan oleh warga maupun wisatawan. Kerusakan fatal itu terjadi dalam waktu kurang dari satu tahun sejak pembangunan dinyatakan selesai.

‎Dugaan sementara, ambruknya bangunan disebabkan oleh lemahnya perencanaan awal. Analisis lokasi dinilai tidak mempertimbangkan kondisi geografis dan kontur tanah setempat, sehingga pembangunan terkesan dipaksakan. Proyek tersebut juga diduga dikerjakan secara terburu-buru tanpa memperhatikan standar pondasi yang semestinya.

‎Selain itu, kualitas material dan pengerjaan konstruksi juga dipertanyakan. Dengan anggaran lebih dari seratus juta rupiah, hasil bangunan dinilai jauh dari standar teknis yang seharusnya.

‎Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam dari masyarakat sekitar

‎“Belum juga dipakai jualan, sudah rata dengan tanah. Ini uang rakyat, tapi hasilnya seperti asal jadi,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

‎Ambruknya fasilitas wisata tersebut mengindikasikan adanya dugaan kelalaian dalam pengawasan serta perencanaan, baik oleh pihak desa maupun pelaksana proyek. Jika dugaan mark-up anggaran dan kegagalan konstruksi ini terbukti, maka negara diduga mengalami kerugian keuangan yang tidak sedikit.

‎Hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak terkait belum memberikan klarifikasi resmi mengenai penyebab robohnya bangunan kantin wisata tersebut.